KBM santri al itqan

Pertimbangan Saya Memilih Pesantren Untuk Anak Saya

santri al itqan

Pertimbangan pertama, saya lebih memilih Pesantren yang baru berkembang yang tidak terlalu besar dan santrinya tidak terlalu banyak.

Kenapa saya memilih yang demikian?
Karena pesantren yang seperti ini biasanya kontrol, pengawasan, dan perhatiannya lebih maksimal.

Dan sudah menjadi hal yang sangat umum di mana-mana, lulusan-lulusan terbaik pesantren rata-rata adalah generasi awal-awal masa-masa perjuangan pesantren tersebut tumbuh dan berkembang. Sehingga saat lulus pesantren para alumninya pun merasakan masa-masa perjuangan itu yang juga akan menjadi bekal dan pengalaman penting bagi mereka di kemudian hari.

Kita juga sama-sama tahu generasi terbaik biasanya tidak lahir dari mereka yang terbiasa santai karena kenyamanan. Tapi yang merasakan proses susah payah perjuangan.

Maka dari itu, bagi saya fasilitas dan nama besar pesantren hanyalah pertimbangan ke-sekian puluh bahkan ke-sekian ratus saja. Makanya ketika memasukkan anak ke pesantren, saya tipe wali santri yang tidak pernah komplain soal fasilitas.

KBM santri al itqan

Di rumah saya saat ini ada dua ruangan yang menggunakan AC, kamar utama dan kantor pribadi. Tapi saya melarang keras anak-anak saya untuk tidur di ruangan ber-AC tersebut.
Kamar tidur anak hanya pakai kipas saja.

Saya selalu sampaikan kepada anak-anak: “belum saatnya!. Kalau belum apa-apa sudah terbiasa tidur di ruangan AC nanti gampang nggak betah dan nggak nyaman di mana-mana dan susah tidur. Pulang kampung merasa nggak nyaman, diajak jalan-jalan nggak nyaman, mabit di masjid nggak nyaman, dan nanti di pesantren pun juga nggak nyaman.”

Alhamdulillah dampaknya anak-anak bisa tidur nyaman di mana saja, tanpa protes dan tanpa rewel. Di rumah biasa tertidur di mana saja (meskipun sudah ada kamar), biasa tidur di masjid, diajak nginep di mana saja juga OK, tanpa ribet tanpa ruwet.

Maka dari itu, soal kamar/asrama santri saya lebih senang jika hanya pakai kipas daripada yang pakai AC. Sebab kita tidak tahu tantangan hidup ke depan yang akan dihadapi anak seperti apa. Maka anak harus kita persiapkan agar lebih tangguh menghadapinya.

santri tahfizh quran

Karena yang terbiasa nyaman sering tidak siap dengan kondisi yang tidak nyaman. Tapi yang sudah biasa tidak nyaman akan lebih siap terhadap kondisi yang lebih nyaman. Seperti orang yang kulitnya putih biasanya takut jadi hitam, tapi yang kulitnya hitam tidak takut jadi putih… (qiyas nggak nyambung.

Jika pesantren tahfidh, maka saya memilih yang targetnya hafalan mutqin, bukan sekedar selesai setoran sebagaimana yang lagi ngetrend saat ini. Karena hafalan Qur’an itu bukan sekedar berapa yang sudah disetorkan, tapi berapa banyak yang bisa diperdengarkan sewaktu-waktu.

Soal program, tidak muluk-muluk. Targetnya sebelum baligh anak sudah matang urusan agamanya. Tidak menuntut anak bisa segala hal atau ” ala kulli syai-in qadir”. Karena jika agama tidak matang, faktanya hingga dewasa bahkan sampai lanjut usia banyak orang yang masih galau dan bingung urusan agamanya. Mau belajar sudah merasa nggak sempat, merasa berat, merasa tua, dan merasa sudah terlambat.

Masalah skill/ keahlian yang lain sangat mudah dipelajari nanti sesuai bakat dan minatnya.

Soal teknologi, nggak bakal ketinggalan. Karena teknologi terus berkembang dan berubah dengan cepat. Belum sempat mempelajari yang lama sudah keluar yang terbaru. Seperti dulu belum sempat punya blacberry sudah keluar android (sama juga belum sempat punya uang yang model lama sudah keluar cetakan yang baru.

Jadi kalau belum perlu saat ini, nggak penting-penting amat untuk dipelajari mendetail saat ini. Kalau pun dipelajari, boleh jadi nanti sudah nggak dipakai lagi bahkan sudah jadi barang antik.

Jadi mendingan saat diperlukan sekalian mempelajari yang terbaru. Nggak akan lama mempelajarinya dan nggak bakal ketinggalan teknologi. Seperti emak-emak yang sudah lansia yang saat ini pada mahir dan narsis di medsos, di fb, tiktok, IG, dll. Bahkan ngalahin anak-anak muda. Faktanya mereka tetap nggak ketinggalan jaman.

Kenapa mereka sudah tua-tua pada suka narsis di medsos? Ya karena medsos adanya pas mereka sudah tua. Coba kalau sudah ada pas waktu mereka masih muda, mungkin sekarang sudah pada bosan.

gedung pesantren

Eh bahas pesantren koq malah jadi bahas emak-emak narsis …

Kembali ke masalah pesantren. Terkait suasana, saya lebih memilih yang suasana ruhiyahnya lebih kuat dibandingkan sekedar suasana akademis (termasuk sekedar capaian prestasi-prestasi akademis). Biasanya ini sangat tergantung pimpinan dan pengelola pesantrennya. Karena ruhiyah, akhlak, dan adab yang baik serta semangat menuntut ilmu jauh lebih penting dibandingkan sekedar ilmu yang dikuasai atau prestasi akademis yang diraih.

Di sisi lain, sudah tidak terhitung bagi saya orang-orang yang saya kenal dengan segudang capaian prestasi akademis dan juara-juara berbagai perlombaan, tapi faktanya saat ini mereka hanya jadi tipe yang menunggu peluang bukan tipe yang menciptakan peluang. Masih bingung harus berbuat apa jika tidak ada yang mengajak atau mengarahkan.

Bukan berarti prestasi akademis tidak penting. Tapi itu baru bahan mentah dan hanya merupakan salah satu faktor kecil sebagai bekal perjalanan kehidupan ke depan. Masih ada banyak faktor lain yang diperlukan.

Makanya anak saya sejak awal selalu saya ingatkan: “Saya tidak ingin kamu hanya pintar untuk diri sendiri saja. Tapi harus bisa memberi manfaat buat orang lain. Dan itu tidak bisa didapatkan dari sekedar prestasi akademis, tapi proses panjang tarbiyah maidaniyyah atau pembelajaran dan pengalaman lapangan”.

Terakhir soal biaya, yang penting sesuai kemampuan. Tidak memaksakan yang memberatkan (apalagi hanya demi gengsi). Dan tidak pelit jika memang mampu untuk itu.

Meneladani Almarhum Ayah saya, bayar SPP sekolah anak adalah prioritas pengeluaran sebelum pengeluaran-pengeluaran yang lain.

Makanya saya berusaha bayar SPP selalu tepat waktu di awal bulan (sesuai jadwal). Biar lebih tenang di hati dan lebih berkah. Alhamdulillah selalu Allah mudahkan.

Jangan sampai yang sebenarnya mampu tapi karena tuntutan keinginan yang nggak penting-penting amat, bayar SPP malah nunggak berbulan-bulan. (Ada orang kerja di salah satu BUMN pusat, gaji besar, rumah di perumahan elit, mobil bagus, tapi selalu merasa kekurangan, SPP anak nunggak berbulan-bulan, karena kebanyakan cicilan.

 

By Ust Arham Ahmad Yasin Lc, MH.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *